Sabtu, 09 Maret 2013

Nyanyian Pagi Hari

Pagimu lebih manis dari gula, lebih indah dari mimpi indah
Lebih merdu dari nyanyian burung yang berkicau di taman kita yang hijau
Pagimu lebih indah dari permadani, engkau melihat matahari pada saat hujan
Lebih indah dari embun yang di pancari sang fajar di pagi hari
(Lebih indah) dari harum bunga di kebun kita yang merebak di pagi yang bersinar
Dan (lebih indah) dari bunga-bunga pepohonan yang di hinggapi embun yang membuatnya lebih indah
Pagimu lebih hijau dari pepohonan, dan lebih matang dari dahannya yang berbuah
Lebih elok dari matahari yang menyinari kita dengan segala permukaannya yang bersinar
Pagimu lebih jernih dari air di kolam yang mengalir dari selokan yang terbuat dari marmer
Pagimu lebih bersinar dari matahari pagi, raja atas malamyang di hiasi bulan
Pagimu adalah daun-daun zaitun seperti awan yang tidak hujan
Yang berharap berbicara kepadaku akan minyaknya, ucapan kesuksesan menuju bahtera
Pagimu lbih indah dari susunan huruf-huruf dengan dendangan syair dalam susunan bait
Pagimu lebih bercahaya dari senyuman yang bersinar dari senyuman yang bahagia
Lebih indah dari mata yang berkaca pada mata-mata orang yang berdzikir
Pagimu adalah sebuah pagi yang penuh harapan, dan sebuah ceria kesuksesan bagi yang mendapatkannya
Pagimu tersusun dari cahayanya yang mengkilap, yang sekiranya bukan karena engkau maka tidak akan memancar
Di sisni kebaikan terhenti dengan kebingungan tanpa bicara dan melihat
Segala perasaannya memintaku dari segala misk dan wewangian
Tentang syair dan cinta, apakah keduanya akan menjadi teman untuk menjadiakan sesuatu yang bercahaya
Wahai pengingat kebaikan, janganlah engkau memintaku, aku ingat, namun engkau tidak mengingatkanku dan Tuhanmu
Bahwa jilatan api keputusasaan ada pada luka umat kita yang berbahaya
Dan tidaklah darah-darah korban yang tumpah di atas jalan yang sunyi
Dan tidaklah teriakan kematian yang membangkitkanpenyesalan orang-orang yang menangis
Bukankah para musuh-musuh kita memusuhi dengan terang-terangan pada barisan umat kita yang terbelakang
Akan aku coba pagimu untuk bernyanyi dengan menjawab kerasnya zaman
Dari sebuah syair dan cinta yang berdendang terus-menerus dan berkata kepada hinanya sebuah putus asa, Cerialah !





Di ambil dari buku Jangan Persulit Diri, penulis Abdurahman Saleh al-Asyamawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar