Aku
rasa cinta tak harus memiliki. Merasakan cukup begitu indah meski tak saling
tahu. Bukan tuk dipendam tapi menguatkan hati agar lebih pasti. Ini adalah
cinta yang sesungguhnya.
Cerita
ini berkisah saat aku menduduki semester 3 di Universitas Ganesha. Hari-hariku
tak pernah lepas dari kampus ini, hampir setiap hari kuhabiskan waktuku di
kampus tercinta ini. Karena memang aktifitasku segalanya di sini, mulai dari
kuliah, belajar, mengerjakan tugas hingga kegiatan ekstrakulikuler kampus yang
ku ikuti hingga saat ini.
Disini
aku tidak sendiri, aku mempunyai sahabat karib. Kami berdua di UKM yang sama
karena hobi kami sama yaitu Hiking. Kami bergabung di komunitas Walking and
Traveling (WANATA). Disini kita lalui bersama setiap kegiatan ini, maka tak
jarang teman-teman yang lain selalu menganggap kami seperti induk ayam dan
anaknya karena kami tak pernah berpisah.
“Marsya
Aurum Anastasia ! Khaidar Maliki !” sahut kak Dimas, kakak senior komunitas
kami.
“Iya,ada
apa kak?” Jawab kami kompak.
“Ah,
kalian ini selalu aja berdua, ngga
pernah deh liat kalian masing-masing jalan sendiri”. Canda kak Dimas sambil
mendekati kami.
“Lah,
kita memang jalan masing-masing kak, orang kaki kita aja pisah, hahaha!” timbal
Marsya sambil tertawa.
“Oh
ya, kakak Cuma mau kasih tau kalau pekan depan akan ada hiking ke bukit
Pelangi, kita berkemah di sana, kalian mau ikut ?” Tanya kak Dimas mengalihkan
candaan tadi.
“wahh,
seru tuh, aku ikut kak, aku daftar kak jangan sampai engga loh, awas kalau ngga
di daftarin”. Jawab ku sambil sedikit bercanda.
“aku
juga ikut kak, kan gak akan seru kalau dia ikut aku nggak ikut,hehehe”. Sahut
Malik sambil mengeluarkan candanya..
“oke
kalau begitu kakak akan daftarkan kalian, ingat ya pekan depan acaranya jangan
sampai lupa”. Tegas kak Dimas.
“sipp
kak, tenang aja kita pasti ingat kok”. Jawab kami sambil mengacungkan jempol.
Setelah
itu kami melanjutkan perjalanan ke kelas, disinilah kami berpisah, karena kelas
kami berbeda.
Ketika
sampai di rumah. Aku langsung mempersiapkan barang-barang kebutuhanku untuk
berkemah nanti. Tiba-tiba,
“Sya,
udah nyiapin apa aja buat acara nanti ?” tanya Malik mengagetkanku.
“Ih
bilang-bilang dong kalau mau ngagetin”. Ketus aku sambil memasukan perlengkapan
kebutuhanku.
“Lagian
nyiapin barang-barang sambil ngelamun, ngelamunin apa sih kayak yang iya aja
ngelamun?” tambah ejekannya dari Malik.
“Huuu
siapa yang lagi ngelamun, orang lagi nginget-nginget bawa apa aja, lagian kamu
ngapain kesini, bukannya nyiapin buat acara nanti.” Tanyaku.
“Ngapain
di siapin orang udah di siapin sama kamu yeee”. Jawab Malik sambil menjulurkan
lidahnya.
“Ih
pede orang ini buat aku semua.” Ejek ku pada malik.
“Haha
tenang aja aku udah beres kok, emangnya kamu nyiapin sambil ngelamun mulu”Balas
Malik sambil pergi begitu saja.
“Haha,
baiklah.” Jawabku singkat.
Akhirnya
waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku, Malik dan teman-teman komunitas
WANATA sudah siap untuk mengikuti acara hiking hari ini. Satu persatu anggota
WANATA berbaris dan bersiap melakukan upacara pembukaan. Pagi ini tepat pukul
07.00 Acara di buka oleh pembina yang juga salah satu dosen kami yaitu pak
Wardhoyo, acara resmi di buka dan kami bersiap-siap untuk berangkat menuju
lokasi hiking.
Kami
mulai perjalanan menggunakan bis. Seperti biasa aku duduk dengan Malik.
Lagi-lagi kak Dimas mengejek kami.
“Hey kalian ini selalu saja berdua,
kemana-mana berdua, sekarang pun berdua.” Kami berdua hanya tersenyum.
Di sepanjang
perjalanan Kami terus mengobrol dan becanda, apalagi saat kak Dimas menceritakan
pengalaman lucunya saat mengikuti acara kemah seperti ini. Hingga tak terasa
kami sudah sampai di tempat tujuan. Namun aku merasa ada sikap yang berbeda
dari Malik, dia begitu enggan untuk ikut bersorak seperti kami dia hanya
melebarkan senyum saat kami tertawa.
“Hey,
bengong aja, dari tadi kita bercanda tapi kamu diam saja. Ada apa Mal ?”
Tanyaku.
“Senyum
itu mahal, apalagi kalau tertawa akan lebih mahal”. Jawab Malik singkat
“Huh
dasar , hari ini kau sungguh aneh Mal”. ucapku sedikit ketus karena sikap Malik
yang aneh. Tak lama kemudian Kak Dimas memanggil ku.
“Akhirnya
Kamu bisa sendiri juga sya, haha”. Ejek kak Dimas sambil tertawa.
“ih
si kakak meledek mulu, Ada apa kak?” tanya ku.
“Nggak
ada apa-apa, Cuma ada beberapa hal yang ingin kakak sampaikan ke kamu Sya.”
Ucap kak Dimas. Namun ucapan kak Dimas terhenti karena ada panggilan untuk
seluruh peserta agar segera berkumpul.
“Yah
nanti deh kita lanjut lagi”. Ujar kak Dimas.
Setelah kami
selesai berkumpul perjalanan pun dimulai, lembah serta jalan yang cukup kami
lalui bersama dengan turunnya hujan.
Disepanjang
perjalanan aku merasa semakin bingung dengan sikap Malik yang begitu acuh
kepadaku, tak biasanya kami berjalan sendiri-sendiri, biasanya dia selalu ada
di sampingku kemanapun kami pergi. Dan ucapan kak Dimas yang membuat ku
penasaran. Apa yang akan ia sampaikan hingga ia terlihat begitu serius untuk
mengatakannya. Aahh... ada apa denganku, dengan hatiku.
Tiba-tiba
kak Dimas mengagetkanku dari belakang. Membuat ku tersentak kaget hingga kak
Dimas tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku.
“Ah.
.kak Dimas bikin kaget saja. Kak lihat Malik tidak?” Tanyaku heran.
“Tuh
dia ada di paling belakang”.Jawab kak Dimas sambil menunjuk kearah belakang.
“Kok
dia ngga bilang-bilan kalau ada di belakang yah”. Timpal ku membalas ucapan kak
Dimas.
Tiba-tiba. . .
“Marsya,
Sebenarnya kakak ingin mengungkapkan sesuatu, Saat pertama kali kakak lihat
kamu ada sejuta keindahan yang kakak rasakan, kakak nyaman dan tenang ketika
melihat kamu, entahlah ini pertanda jatuh cinta atau hanya sebatas perasaan
suka, meskipun sebenarnya kakak masih tak bisa melupakan kekasih yang dulu
pergi meninggalkan kakak karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, tapi kian lama
kakak bertemu denganmu Sya, rasa ini tak kunjung lepas, kakak ingin katakan
padamu, kakak ingin melegakan hati Sya di antara ribuan pertanyaan yang ada di
dalam hati mengenai perasaan ini. Apapun jawaban kamu Sya, kakak akan
menerimanya dengan siap” Ucap kak Dimas dengan serius.
Aku tersentak
mendengar ucapan kak Dimas. Aku bingung, aku terdiam, aku dilema, aku belum
siap. ini bukan saatnya.
“Aahh...
tidak, batinku semakin tak karuan.”
“Hey,
Bengong aja, ada apa, karena kakak ya? Maaf kalau kakak terlalu spontan tapi
kakak juga tak bisa memendamnya terlalu lama. Hmm.. Sudahlah, ayo lanjutkan
perjalanan, yang lain sudah semakin mendekat.” Ujar kak Dimas menyadarkan
lamunanku.
“iya
kak duluan saja aku mau nunggu Malik dulu kak.” Jawabku sedatar mungkin.
“oh
ya sudah kakak tunggu di bukit ya perjalanan kita sekitar 4 Jam lagi,
semangat.” Sahut kak Dimas sambil melangkahkan kakinya dan pergi menjauh.
Lama
tak kulihat Malik mendekat, aku semakin khawatir dengan keadaannya, mungkinkah dia
tersesat? aku semakin galau. Aku bertanya pada setiap orang lewat, namun tak
ada yang mengetahui keberadaan Malik. Tak lama kemudian, aku mendapatkan kabar,
kalau Malik sedang menolong peserta yang
terluka. Aku merasa lega, karena kini aku tahu keberadaan Malik, dia sedang
baik-baik saja di bawah sana. Aku melanjutkan perjalanan dan Akhirnya sampai
juga di atas bukit pelangi. Begitu indah dengan pancaran warna pelangi yang
cerah setelah hujan reda, tak salah semua mengatakan ini adalah bukit pelangi. Aku
merasakan kesejukan dan kedamaian di bukit Pelangi ini. Tapi tiba-tiba ada
seorang kakak pembimbing memanggil namaku dengan tergesa-gesa.
“Marsya
Aurum Anastasia!” Sahut kak Satria dengan lantang dan tergesa-gesa.
“Iya, ada apa
kak?” Jawab ku sambil berlari.
Kak
satria menyampaikan suatu hal yang menimpa Malik siang tadi, lalu kak Satria
memberikanku sepucuk surat titipan dari Malik. Setelah itu kak Satria bergegas
mengumpulkan kakak senior yang lainnya untuk melakukan evakuasi kepada Malik.
Aku kembali tersentak karena mendapat kabar bahwa Malik terjatuh dari tebing saat membantu peserta
yang lain. Dia terpeleset saat hendak menahan beban peserta lain yang dia
tolong. Kejadian ini membuat ku Shok ,semua keindahan yang ada di sini tak ada
artinya. Aku seperti terhempas kedalam jurang yang dalam. Aku tak percaya ini
terjadi pada sahabatku ? Batinku remuk mendengar kejadian ini. Semuanya hilang,
tak lagi kurasakan keindahan pelangi yang memancar, alam sekitar yang
menyejukkan hati tak lagi terasa semua bias dan lenyap. Aku pun lemas tak kuat
menahan diri, aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Beberapa
saat kemudian aku terbangun dan menangis, menanyakan keberadaan Malik namun tak
ada yang memberitahu keberadaannya, aku ingin bangun namun tak mampu ku
bertahan, lalu aku teringat tentang sepucuk surat yang kak Satria titipkan
untukku, akhirnya kubuka surat titipn dari Malik.
“Cinta memang
begitu indah, Tak ada yang lebih indah dari rasa jatuh cinta. Meskipun perasaan
ini hanya mampu terpendam cukuplah aku yang merasakannya. Mungkin kau bingung
dengan keadaan ini, atau kau marah dengan sikapku ini. Aku bukannya enggan
dekat denganmu tapi aku hanya tak ingin merusak perasahabatan kita, aku tak
cukup berani untuk mengungkapkannya namun kecemburuan ini membuat ku sakit,
lebih baik menghindarimu agar kau dapat memilih dan mendapatkan kebahagiaanmu.
Aku tak tahu kapan aku mulai mencintaimu, aku juga tak bisa memberanikan diri
untuk mengungkapkannya padamu, aku terlalu takut, semua ini berbeda saat kita
bersama dalam persahabatan, ini masalah cinta yang membuat hati ini tak biasa.”
Aku terpaku setelah membaca surat itu. Kini
aku sadar dengan keadaan ini, aku paham mengapa dia menjauh dariku. Aku semakin
galau, hingga akhirnya terdengar kabar bahwa Malik telah meninggal di Rumah Sakit
Paramedika. Aku semakin sedih, aku tak dapat menerima kejadian ini. Aku
langsung meminta kakak seniorku untuk membawaku ke tempat Malik di rawat. Aku
pun sampai di Rumah Sakit Paramedika, disana sudah ada orang tua Malik dan
orang tua ku yang menangis tersedu-sedu karena kejadian ini.
Terima kasih
sahabat kecilku. Semua cerita indah yang pernah kita lalui sejak kecil hingga
kini, akan ku kenang selalu. Kau sahabat terbaik sekaligus orang yang paling ku
sayang, meskipun kau kini telah tiada. Aku tak percaya kau telah pergi
meninggalkanku lebih cepat dari yang ku bayangkan. Selamat jalan Khaidar
Maliki, selamat jalan cinta. Aku kan terus mengenangmu sampai kapanpun.