DJAP SUI CIU ( MUSLIM HARYANTO )
Lahir pada 05 April 1966, di Pontianak, Kalimantan Barat. Djap Sui Ciu putra pertama dari pasangan Lam Sjak Fui dan Djap Yan Khui yang kemudian menjadi anak pertama dari lima bersaudara. Dia memulai jenjang sekolah di Pontianak serta bergaul sama halnya anak-anak. Tapi ia sedikit berbeda dengan teman-temannya, kadang ia sering berdagang ke pasar karena tidak betah hanya berdiam diri.
Djap Sui Ciu merantau ke daerah Bogor tepatnya di Leuwiliang pada tahun 1988. Bersama pamannya untuk ikut berjualan. Sebagai perantau begitu banyak kejadian dan pengalaman yang dialaminya dalam hidupnya. Asam manis kehidupan sebagai perantauan di banyak rasakan. Namun ia cukup tegar dalam menghadapinya.
Suatu hari ia memulai perjalanannya yang baru sebagai muallaf. Djap Sui Ciu masuk Islam pada tahun 1990 tanpa ada dorongan dari apapun unutk mendoronganya masuk Islam, tapi dari dirinya sendiri untuk memutukan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Muslim Haryanto. Hal ini cukup menjadi pertentangan di keluarganya, karena sebelumnya ia menganut agama Konghucu. Tanpa pertimbangan apapun ia tetap teguh pendiriannya untuk tetap masuk Islam. Dan ia mulai mencari guru untuk mengajarinya tantang Islam. Dan ia pun menjadi anak asuh keluarga H. Surya (Alm)dan Hj. Fatimah.
Setalah dua tahun masuk Islam ia menikah yakni pada tahun 1992. Beliau menjalani hidup barunya sebagai suami. Setelah satu tahun menikah ia menjadi seorang ayah untuk anak pertamanya yang di beri nama Darmawan Muslimianto. Nama itu atas usulan orang tua asuhnya dan kemudian ia memakai untuk menamai anak pertamanya itu. Hidupnya saat itu cukup ada untuk menghidupi anak dan istrinya. Dengan jarak 6 tahun kelahiran anak pertamanya lahir anak kedua yang di beri nama oleh ia dengan nama Badru Tamam, karena menurut ia anaknya lahir pada bulan purnama atau bulan yang sempurna.
Kini ia hanya menjadi seorang orang tua tunggal untuk anak-anaknya karena istrinya telah meninggal pada tahun 2011. Sebagai duda 2 anak, ia mencoba hidup barunya lagi dengan berusaha untuk menjadi ayah dan ibu bagi anaknya. Dengan usaha yang sekucupnya dia berjuang demi menghidupi kedua anaknya, karena ia tidak memiliki kerjaan yang tetap sehingga ia harus cukup bersusah payah dan semaksimal mungkin untuk dapat penghasilnya setiap harinya. Untuk pekerjaan rumah sendiri ia membaginya dengan anak-anaknya sehingga dapat begitu membantunya dan meringankan pekerjaannya.
Namun sang ayah ini ingin anaknya menjadi sukses, dan tidak seperti ia yang ahnya sebagai pekerja tidak tetap. Ia selalu berharap dan berdoa untuk anak-anaknya agar sukses serta melakukan apapun demi masa depan anak-anaknya tidak peduli seberapa letih ia bekerja. Ia pun ingin anak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, guru, serta orang disekitarnya, rajin beribadah dan bertaqwa, dan berguna bagi masyarakat.
Sehingga ia mendidik anaknya begitu keras tapi lembut. Ini untuk mengajarkan anak-anaknya bagaimana arti hidup itu, bisa bersenang-senang tapi perlu juga usaha untuk mendapatkannya. Hal ini dikarenakan tanggung jawab yang ia miliki apalagi kini ia hanya sebagai single parent, tentu ini juga menjadi beban tambahan baginya tapi ia tetap tegar dan tabah menjalaninya. Kini ia hanya berharap dari anak-anaknya agar nantinya bisa lebih baik darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar