Menghitung hari detik demi detik...
Salah satu mahasiswa menyanyikan lagu itu sebagai lagu pembuka pentas seni kali ini.
Lantunan lagu yang begitu indah membuat aku teringat sosoknya yang pendiam namun cukup dekat dengan aku. Aku tak kuasa menahan tetasan air mata ini. Semua seakan teringat dan tak bisa ku lewati lagi. Aku terisak namun berusaha tak menjadi perhatian orang lain. Aku langsung berlari menuju Kamar mandi sebelum aku meluapkan tangisanku itu.
“Bruugg.. “ Tiba-tiba aku menabrak seseorang dan kami terjatuh. Aku berusaha meminta maaf namun tak tahan oleh derasnya air mata ini. Aku langsung bergegas dan pergi namun tertahankan oleh tangan yang memegang aku dengan erat.
“Marsya, ini kamu ? kamu ada apa ?” Tanyanya.
Aku berusaha memalingkan wajah agar tidak terlihat tangisanku. Namun tetap saja tanganku terpegang erat dan aku tidak bisa langsung pergi.
“Marsya? Kamu menangis ? ini Dimas sya.” Tanyanya lagi.
“Aku ngga apa-apa kak.” Jawabku sambil tetap memalingkan wajah.
“Ngga apa-apa gimana tuh air mata kamu udah seember.” Candanya
Aku hanya tersenyum dengan ucapan kak Dimas yang mencba menghiburku.
“Kamu menangis ada apa, cerita ke Kakak”. Tanyanya berusaha mencari tahu.
“Ngga kok kak, aku cuma inget Malik aja kak.” Jawabku
“kenapa? Kamu teringat Malik, kamu mengingatnya hanya dengan menangis?” ujarnya sambil berusaha menatap wajahku.
Aku tersentak mendengar ucapan kak Dimas. Aku terdiam dan mencoba menghentikan tangisan aku. Aku diam.
“kok malah diam? Ucapan kaka buat kamu sakit hati ya ?” tanyanya heran.
Melihat aku melamun kak Dimas mengagetkan aku.
“Awas kecoa tuh kecoa”. Ujar kak Dimas.
“aaahhh mana ? mana ? buang kak buang”. Jerit aku sambil meloncat-loncat.
“Hahaha bengong aja sih, mana aja kecoa di pinggir jalan hahaha.” Ucap kak dimas sambil tertawa terpingkal-pimgkal.
“Ih kakak mah bete deh, lagian siapa yang melamun.” Ketusku
“siapa ya? Ngga tau tuh soalnya kakak mah cuma bilang ada kecoa aja.hahaha” ldeknya lagi.
“Ih bete.kak aku pergi ah” Ucapku
Tiba-tiba kak Dimas menarik lenganku lagi sebelum aku pergi.
“Kalau kamu ingat dia jangan kau tangisi, dia tak akan kembali lagi karena tangisanmu, semua mempunyai kenangan dan anggap semua itu adalah hal terindah selama hidup ini, bukan berarti kau tidak usah mengenangnya tetapi perlu kau sadari hidup itu bukan untuk dikenang dan kematian bukanlah menjadi sebuah tempat untuk mengenang. Jika kau kembali teringat padanya doakan dia berikan doa-doa mu untuknya dan buat dia tersenyum melihat keberhasilan mu nanti.” Ucapnya
“Iya kak, makasih kak”. Ucapku
Kak Dimas melepaskan genggamannya dan membiarkanku pergi. Aku berlari dan berlalu dari hadapannya.
Entahlah apa yang kurasa saat ini, seakan aku masih belum menerima kepergiannya lagi. Begitu banyak kenanganku dengannya.
Ketika pagi aku mulai memikirkan perkataan kak Dimas, aku mulai dapat mengendalikan diriku setelah sepanjang malam aku menangis tiada henti sampai aku lupa untuk makan dan minum.
“kak Dimas benar aku harus kuat, aku ngga boleh cengeng aku harus buat Malik tersenyum disana. Aku akan selalu mendoakanmu sayangku.” Tekadku.
Semoga kau dapat membimbingku di sana. Aku akan kuat untukmu Malik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar