Aku hanya percaya bahwa Allah akan selalu memberikan makhluknya berpasangan meski dalam beberapa waktu dalam kesendirian
I Have a conviction for my life, I should be able to be an inspiration with my creation for those who see myself, although I still could not stand up on my own dream. .
Sabtu, 26 Desember 2015
Senin, 30 November 2015
Izinkan ku Cemburu
Izinkan aku cemburu..
Meski awal ku belum tau ini apa
Meski ku sadar ini tak seharusnya
Meski ku yakin kita tau nmun semua pura2 tidak tahu
Izinkan ku untuk cemburu
Meski ini rasa yg berbeda
Seolah berubah dan semakin kuat
Entah sama sama tahu atau tidak
Tetapi memang ini benar adanya
Izinkan aku cemburu
Meski kita memiki batas
Tak ada kepastian
Demi ketekadan masing2
Dan harapan yang masih membayang
Izinkan ku tuk cemburu
Meski ku tak tau akan bersama atau tidak
Meski ku tak tau semua rasa dibaliknya
Tapi aku tak kan memaksa untuk dapat diri lain disana
Tak dapat ku pungkiri jika hanya harapanku
Bukan ku pasrah tp ini belum bisa di paksakan
Karna aku adalah aku dan kamu adalah kamu
Kamu berhak memilih
Dan aku berhak untuk menanti
Izinkan aku cemburu
Entah aku yakin atau kamu blm pasti
Aku harap kita tetap bersama
Dengan harapan masing2
Dan tekad kita yg terpegang
Minggu, 15 November 2015
Sang Guru
Dengan senyum paginya sang bu guru menyapa anak-anaknya untuk memulai belajar pagi hari. "Selamat pagi anak-anak?" Sahutnya. "Selamat pagi bu". . Tak terlihat lelah sang guru memberikan ilmunya kepada seluruh siswanya. Padahal dia harus bangun pagi untuk memulai dan melayani seluruh keluarga. Dia yang bangun lebih awal dan yang lain masih terlelap. Dia yang membangunkan sampai semua terbangun tanpa lelah begitulah kesehariannya.
Disekolah dia haru siap dengan mentalnya untuk menjadikan anaknya menjadi seorang yang lebih maju dan mempunyai keinginan untuk berkembang. Dan menjadi pendorong bagi siswanya untuk bangkit dan tak kenal menyerah. Memberi keikhlasan dan teladan bagi muridnya.
Meski kadang di rumah tidak begitu baik. Tetapi disekolah senyum cerianya tersimpul untuk anak-anak. Di rumah dia sudah lelah tetapi di sekolah dia berubah ceria. Dia pandai menutupi kesedihannya, Kegundahannya dan keletihannya demi anak-anak.
Dengan jilbabnya dia memberikan keindahan dan keikhlasan. Memberikan keceriaan pada mereka. Yang terkadang rewel dan ingin menjadi perhatiannya. Tapi ia tidak pernah habis pikir untuk membuat mereka semangat dalam belajar..
Senin, 13 Juli 2015
Akhir Rasa Ini (1) Cerbung Cinta Marsya
Rabu, 10 Juni 2015
Minggu, 26 April 2015
Sabtu, 07 Februari 2015
Teringat kembali
Menghitung hari detik demi detik...
Salah satu mahasiswa menyanyikan lagu itu sebagai lagu pembuka pentas seni kali ini.
Lantunan lagu yang begitu indah membuat aku teringat sosoknya yang pendiam namun cukup dekat dengan aku. Aku tak kuasa menahan tetasan air mata ini. Semua seakan teringat dan tak bisa ku lewati lagi. Aku terisak namun berusaha tak menjadi perhatian orang lain. Aku langsung berlari menuju Kamar mandi sebelum aku meluapkan tangisanku itu.
“Bruugg.. “ Tiba-tiba aku menabrak seseorang dan kami terjatuh. Aku berusaha meminta maaf namun tak tahan oleh derasnya air mata ini. Aku langsung bergegas dan pergi namun tertahankan oleh tangan yang memegang aku dengan erat.
“Marsya, ini kamu ? kamu ada apa ?” Tanyanya.
Aku berusaha memalingkan wajah agar tidak terlihat tangisanku. Namun tetap saja tanganku terpegang erat dan aku tidak bisa langsung pergi.
“Marsya? Kamu menangis ? ini Dimas sya.” Tanyanya lagi.
“Aku ngga apa-apa kak.” Jawabku sambil tetap memalingkan wajah.
“Ngga apa-apa gimana tuh air mata kamu udah seember.” Candanya
Aku hanya tersenyum dengan ucapan kak Dimas yang mencba menghiburku.
“Kamu menangis ada apa, cerita ke Kakak”. Tanyanya berusaha mencari tahu.
“Ngga kok kak, aku cuma inget Malik aja kak.” Jawabku
“kenapa? Kamu teringat Malik, kamu mengingatnya hanya dengan menangis?” ujarnya sambil berusaha menatap wajahku.
Aku tersentak mendengar ucapan kak Dimas. Aku terdiam dan mencoba menghentikan tangisan aku. Aku diam.
“kok malah diam? Ucapan kaka buat kamu sakit hati ya ?” tanyanya heran.
Melihat aku melamun kak Dimas mengagetkan aku.
“Awas kecoa tuh kecoa”. Ujar kak Dimas.
“aaahhh mana ? mana ? buang kak buang”. Jerit aku sambil meloncat-loncat.
“Hahaha bengong aja sih, mana aja kecoa di pinggir jalan hahaha.” Ucap kak dimas sambil tertawa terpingkal-pimgkal.
“Ih kakak mah bete deh, lagian siapa yang melamun.” Ketusku
“siapa ya? Ngga tau tuh soalnya kakak mah cuma bilang ada kecoa aja.hahaha” ldeknya lagi.
“Ih bete.kak aku pergi ah” Ucapku
Tiba-tiba kak Dimas menarik lenganku lagi sebelum aku pergi.
“Kalau kamu ingat dia jangan kau tangisi, dia tak akan kembali lagi karena tangisanmu, semua mempunyai kenangan dan anggap semua itu adalah hal terindah selama hidup ini, bukan berarti kau tidak usah mengenangnya tetapi perlu kau sadari hidup itu bukan untuk dikenang dan kematian bukanlah menjadi sebuah tempat untuk mengenang. Jika kau kembali teringat padanya doakan dia berikan doa-doa mu untuknya dan buat dia tersenyum melihat keberhasilan mu nanti.” Ucapnya
“Iya kak, makasih kak”. Ucapku
Kak Dimas melepaskan genggamannya dan membiarkanku pergi. Aku berlari dan berlalu dari hadapannya.
Entahlah apa yang kurasa saat ini, seakan aku masih belum menerima kepergiannya lagi. Begitu banyak kenanganku dengannya.
Ketika pagi aku mulai memikirkan perkataan kak Dimas, aku mulai dapat mengendalikan diriku setelah sepanjang malam aku menangis tiada henti sampai aku lupa untuk makan dan minum.
“kak Dimas benar aku harus kuat, aku ngga boleh cengeng aku harus buat Malik tersenyum disana. Aku akan selalu mendoakanmu sayangku.” Tekadku.
Semoga kau dapat membimbingku di sana. Aku akan kuat untukmu Malik.






